Puisi Cinta

Meski sejenak bertemu, aku bahagia bisa kembali melihatmu
Di batas-batas kerinduan dan kehampaan tak terasa airmata menetes di pipiku

Hati yang mati suri, tiba-tiba terjaga dan berkata bahwa sesungguhnya rasa masih ada
Baru kumengerti bahwa rasa tak pernah pergi dan sepertinya takkan terganti

Sekeras apapun kumencoba, selemah apapun daya tuk mengingatnya
Hati miliki pilihannya sendiri yang tak bisa diatur oleh akal

Kukira aku sudah berhenti berharap di sekian waktu yang lalu
Kukira aku tak punya lagi hasrat untuk bertemu
Kukira… aku takkan lagi melihatmu seindah seperti dulu
Hingga kemarin aku tahu bahwa segalanya tak ada yang berubah
Hanya setumpuk perkiraanku saja yang salah

Sebab Inilah Cinta

Puisi puisi untuk cinta
Kutulis… tanpa pernah mengerti
Adakah ia telah membacanya
Namun aku tak peduli

Sebab cinta akan tetap ada

Prosa-prosa yang kutulis tentang cinta
Kutulis…mengalir lepas tanpa batas
Adakah ia mengetahuinya?
Tidak pun tetap akan kutulis terus prosa

Sebab cinta tetap s’lalu untuknya

Sedetik…Sekali…

Sedetik saja kuingin
Melihat dirimu menatapku
Dan mungkin tuk terakhir kalinya
Sesaat saja andai bisa
Kukecup keningmu terakhir kalinya
Sebagai memori hingga akhir usia
Sekali saja andai dapat
Satu saja pinta itu terkabul
Mungkin rasa tak begini jadinya

Sejuta Puisi

Walau sejuta puisi takkan pernah mampu menggambarkan untukmu
Seperti apa aku menyayangimu, mencintaimu, membutuhkanmu
Sejuta puisi tetap kan kutulis untukmu
Walau itu menghabiskan sepanjang waktu
Walau sejuta puisi takkan pernah bisa gantikan keberadaanku setiap kerinduanmu
Semoga sejuta puisi selalu sadarkanmu bahwa aku tak pernah jauh
Kan selalu ada kamu di hatiku, sejuta puisiku hanya kan bercerita itu
Meski tak bisa memelukmu, kau kan ingat betapa erat aku memelukmu

Tujuan Hidup

Biarkan aku menempati ruang di hatimu
Walau aku tak sebaik bayanganmu
Meski aku terkadang menyakitimu
Biarkan saja aku tetap disitu!

Bukan ku membencimu jika tak berkata sayang selalu
Bukan juga melupakan atau t’lah hilang sayang itu
Percayailah sepanjang waktu rasa ini tetap begitu
Usah ragukanku, simpan tenaga dan waktumu

Tak pernah mudah berkata cinta bahkan untukmu
Jika tak teruntukmu, tak mungkin terucap sayang itu
Dulu… hingga sekarang pun tetap dulu
Sayangku, meninggalkanmu bukan tujuan hidupku

Untuk ‘Sahabatku’

Tidak ada yang salah di dirimu ketika perasaanmu mengatakan bahwa aku adalah seseorang yang engkau cintai. Sahabatku, tidak pernah salah bagi siapapun untuk mencintai seseorang yang layak untuk dicintai. Tidak juga salah bagimu, ketika akhirnya mencintaiku.

Hari ini engkau menuliskan pesan pendek untukku. Kamu bilang kamu tulus mencintaiku. Sungguh, aku tidak tahu apakah benar ketulusan itu sebagaimana yang kau ucapkan, atau sesungguhnya pesan itu hanyalah sebaris kalimat penuh pengharapan agar aku mau menerima dirimu sebagai pendampingku. Sahabatku, tidak sedikitpun aku ingin memprotesmu atau meragukan tulisan pendek itu. Tiada guna bagiku hidup dengan keraguan atau kecurigaan.

Sahabatku, tiada henti ku ucap terimakasih karena engkau telah menyayangiku, meski engkau belum sepenuhnya mengerti baik burukku. Melihat sikapmu, aku jadi menyimpulkan bahwa cinta ternyata juga penuh resiko.

Sahabatku, semoga engkau tetap bisa menjadi sahabatku. Semoga esok, ketulusan cinta yang kau tuliskan terwujud dalam sebuah kebesaran hati untuk menerima kenyataan hidup bahwasannya seluruh perasaan dan perhatianku untuk seseorang yang telah lama kucintai. Aku pikir kamu sudah lebih dari tahu, pada siapa sesungguhnya seluruh perasaanku bermuara, mengingat awalnya kedekatan kita kupikir hanya sebatas persahabatan biasa dari dua insan beda jenis saja.

Sahabatku, andai aku bukanlah seorang yang tidak menghargai keberadaanmu, mungkin aku sudah memilih untuk marah kepadamu, sebab telah mengkhianati kepercayaanku yang menganggapmu sebagai seorang sahabat. Itu sama seperti kamu memanfaatkan seluruh informasi pribadi seputar diriku untuk meraih simpati dan perasaanku. Bukankah cinta yang tulus harusnya menyadarkan dirimu bahwa seluruh cinta tulusku sudah kucurahkan pada ia yang kucintai sekian tahun terakhir ini?

Sahabatku, tanpa bermaksud mengguruimu, mungkin sedikit pengalaman hidupku bisa sedikit kau ambil pelajaran tentang seperti apa cinta tulus menurut pandanganku. Seperti kamu tahu, tidak sedikitpun aku pernah memaksakan perasaan sayangku kepadanya yang kucintai sepenuh hati. Hanya kubiarkan ia tahu dan terus merasakan bahwa aku memang tulus mencintai dan menyayanginya, tidak pernah aku memaksanya untuk melupakan atau berhenti mencari yang lain. Dan, untuk kau tahu, ia yang kucintai itu juga sungguh-sungguh mengerti tentang seperti apakah ketulusan itu sendiri.

Puisi Ninda Imutz#1

sudahkah bintang mengerti,
semua yang terjadi pada malam?
bukankah sang bintang yang menyinari malam?

pernahkah Lautan sempat mendengar keluhan sang buih?
bukankah mereka bersahabat?

pantaskah aku mencintai sang waktu?
padahal aku bukan detik…

aku hanya sebuah tulisan yang mungkin esok kan hilang terhapus???
aku hany seutai kata yang tak pernah terucapkan
dan aku hanya sebuah hati yang menanti sebuah singgasana terisi dan meyelimutiku dengan senyuman….
aku mohon cinta…pantaskah aku mendekapmu
sedang aku hanya semu….

Next Page »