Meski sejenak bertemu, aku bahagia bisa kembali melihatmu
Di batas-batas kerinduan dan kehampaan tak terasa airmata menetes di pipiku
Hati yang mati suri, tiba-tiba terjaga dan berkata bahwa sesungguhnya rasa masih ada
Baru kumengerti bahwa rasa tak pernah pergi dan sepertinya takkan terganti
Sekeras apapun kumencoba, selemah apapun daya tuk mengingatnya
Hati miliki pilihannya sendiri yang tak bisa diatur oleh akal
Kukira aku sudah berhenti berharap di sekian waktu yang lalu
Kukira aku tak punya lagi hasrat untuk bertemu
Kukira… aku takkan lagi melihatmu seindah seperti dulu
Hingga kemarin aku tahu bahwa segalanya tak ada yang berubah
Hanya setumpuk perkiraanku saja yang salah
Puisi puisi untuk cinta
Kutulis… tanpa pernah mengerti
Adakah ia telah membacanya
Namun aku tak peduli
Sebab cinta akan tetap ada
Prosa-prosa yang kutulis tentang cinta
Kutulis…mengalir lepas tanpa batas
Adakah ia mengetahuinya?
Tidak pun tetap akan kutulis terus prosa
Sebab cinta tetap s’lalu untuknya
Sedetik saja kuingin
Melihat dirimu menatapku
Dan mungkin tuk terakhir kalinya
Sesaat saja andai bisa
Kukecup keningmu terakhir kalinya
Sebagai memori hingga akhir usia
Sekali saja andai dapat
Satu saja pinta itu terkabul
Mungkin rasa tak begini jadinya
Walau sejuta puisi takkan pernah mampu menggambarkan untukmu
Seperti apa aku menyayangimu, mencintaimu, membutuhkanmu
Sejuta puisi tetap kan kutulis untukmu
Walau itu menghabiskan sepanjang waktu
Walau sejuta puisi takkan pernah bisa gantikan keberadaanku setiap kerinduanmu
Semoga sejuta puisi selalu sadarkanmu bahwa aku tak pernah jauh
Kan selalu ada kamu di hatiku, sejuta puisiku hanya kan bercerita itu
Meski tak bisa memelukmu, kau kan ingat betapa erat aku memelukmu