Adakah aku telah salah? Adakah aku kembali bermain-main dengan harapan? Adakah aku terlalu berharap bahwa semua yang terucap akan terwujud tanpa reversi realita ?
Entahlah. Ketika emosi bukan mutlak milikku seorang diri, kegamangan untuk mengungkapkan kejujuran perasaan selalu menyertai. Adakah sebaiknya aku diam, dan membiarkan perasaan ini tergerogoti rayap-rayap kekecewaan ?
Rasanya juga tak seharusnya seperti itu, sebab aku mencintaimu bukan untuk menyakiti perasaanku sendiri. Adakah aku dulu yang membentukmu menjadi seperti ini, ataukah memang kau telah berevolusi menjadi seseorang yang tampak sama diluar namun jauh berbeda di dalam? Oh… aku tak tahu, dan tak sedikitpun perkiraanku dapat memberikan jawaban yang menenggelamkan ‘aku’ dalam ketenangan.
Terima kasih…. Hanya itu yang bisa ku ucap ketika semuanya harus berakhir tanpa koma. Baru kusadari ternyata janji dan cinta itu tak pernah sungguh-sungguh mengikat hati. Untuk selalu mencintai. Sesuai janji.
Hari ini, sekian tahun sudah sejak waktu itu. Kepergianmu masih membayang, rasa untukmu tak juga hilang. Padahal aku lelah merasakan semua yang masih tersisa.
Hari ini tak ubahnya seperti kemarin
Aku duduk terdiam…
menunggu engkau datang
Bukan aku tak dapat pergi meninggalkan masa lalu
Jika hanya engkau yang berarti bagiku…
Tak bolehkah aku menunggu…?
Kawan, benarkah kesedihan hanyalah sebuah jembatan menuju kebahagiaan? Ataukah kebahagiaan itu sendiri yang merupakan sebuah perhentian sementara bagi kesedihan?.
Ingin rasanya selalu ‘kugenggam’ “Habis gelap terbitlah terang”, andai saja itulah yang selalu terjadi dalam kenyataan. Terkadang semuanya terjadi berlawanan.
Hingga kini hatiku bimbang.