Sekedar memberikan sedikit warna di AnggrekBiru.Com agar tidak terlalu penuh dengan puisi-puisi penantian cinta, puisi kesedihan, ataupun puisi lain yang sejenis itu, maka saya tuliskan disini sebuah Puisi yang sedikit berbeda dari keseluruhan puisi yang ada di AnggrekBiru.Com ini. Semoga bisa menghibur anda semua, meski hanya seutas senyum,
Kamu tuh lucu…
Setidaknya itu menurutku
Salahkah aku, berpendapat begitu ?
Gimana sih menurutmu ??
Mengenalmu sungguh berkesan bagiku
Meski tak pernah cukup waktu
Bagiku, untuk menyimpulkan itu
Biarin aja lah… toh emang t’rasanya begitu
Dibilang sayang…OK-lah aku emang sayang kamu
Tapi tenang aja deh, toh aku nggak maksa kamu
juga seperti itu
Paling kuhanya kangen ingin ketemu
Sekedar ingin jumpa s’bab t’lah mengenalmu
Mungkin nggak ya kamu dah bosen ketemu aku ??
Sebab naluriku berkata “kubanyak dosa ke kamu”
Pernah nggak ya…kamu kangenin aku ?
Saat Pe-Deku berbisik “aku berkesan di hidupmu”
Apapun dihatimu…itu hakmu
Suka-sukanya kamu, toh ini hanya perandaianku
Bagaimanapun, kamu tetap teman bagiku
Yang berarti, di setiap imajiku
Aku mengerti saat kau mengatakan masih mencintainya, masih terkenang oleh segala kelebihannya, hingga mungkin di hati kecilmu terselip ingin untuk menantinya sebagai sebuah ruang waktu untuk kesempatan kedua.
Dari situ, aku pun akhirnya mengerti bahwa ternyata kini diriku sudah tak lagi memiliki arti selain seorang teman untuk berbagi. Kau memang tak pernah mengatakan lugas padaku adakah rasa denganku dulu masih tersimpan hingga kini, namun semua tutur singkatmu tentang seseorang yang berarti di hidupmu tak sedikitpun lagi mengisyaratkan sosok diriku disana. Meski dulu kau senantiasa mengucapkannya.
Ingin sekali aku meragukan harapanku, namun semua ucapan dan janjimu dulu tak sedikitpun kuragukan meski sekian tahun kenyataan seperti berbeda dari semua yang pernah kau ucapkan.
Sempat aku goyah untuk menanti satu kali lagi datangnya waktu agar bisa bersamamu. Namun ternyata aku selalu saja takut kau datang setelah aku berhenti menunggu. Sungguh, tak ingin kumengecewakanmu, sebab ku tak pernah lupa janjiku dulu.
Berikan aku alasan untuk meragukan semua ucapanmu dulu. Berikan aku satu jawaban pasti, sekalipun kita berdua tahu bahwa “Jodoh dan mati hanya IA yang tahu”.
Tidak perlu menyesal telah melakukan kesalahan. Tidak perlu memaksakan diri untuk melupakan semua kenangan (pahit). Menantilah, jika memang kau ingin menanti. Untuk apa takut meletakkan harapan di dalam hidup keseharian?
Kesalahan ada untuk pelajaran
Kenangan ada untuk masa depan
Penantian ada untuk harapan
Tak perlu ragu dan menyesal
Terima kasih…
Untuk semua pengalaman indah
yang t’lah hadirkan kisah
Meski kini, usai segalanya sudah
S’mua memori tetap kan indah
Terima kasih…
Untuk sesaat pertautan hati
Meski sempat terselip janji suci
Tak pernah kumenganggapmu ingkar janji
Walau hanya denganmu kuingin berbagi
Terima kasih…
AnggrekBiru t’lah kau kunjungi
Meski tak berubah, setidaknya kau mengerti
Bahwa hatiku tak pernah terbagi
Hanya untukmu seorang diri