Arsip tulisan May, 2008

Tak Ada Judul Untuk Ini

Ditulis pada tanggal 30 Maret 2004, beberapa bait tulisan di bawah ini hanya ingin bercerita tentang sebuah hubungan Long Distance dimana akhirnya waktu harus kembali memisahkan 2 insan yang sedang bercinta. Puisi Cinta ini mengambil setting lokasi di sebuah kota kecil di Jawa Timur, Tuban, dimana seorang harus kembali ke Surabaya, dan seorang lagi harus segera kembali ke Jakarta.

Tak Ada Judul Untuk Ini

Dikecup terakhir kuletakkan harap
Kuucapkan dalam hati sebait doa
Pada seseorang pemilik hati ini
kan ada waktu bertemu kembali…!!!
Peluk terakhir sebelum pergi
Terangkai indah satu niat suci
Mengikat rasa dan asa yang ada
Wujudkan putih makna cinta…
Hanya sesaat kita mengenal
Pun tak cukup lama waktu tuk berjumpa
Namun kini kumengerti bahwa cinta
tak butuh waktu lama tuk membuat semua s’lamanya
Tunggu aku…!!!
Di satu waktu kukan menjemputmu
Sebab hati t’lah menyatu dan tak meragu
Ku kan segera s’lalu disampingmu


Puisi Lama

Sebuah Puisi lama yang kuambil dari sebuah tumpukan tulisan-tulisan di masa lalu. Ditulis tanggal 24 Maret 2004 pukul 15:32 WIB. Sambil mengisi kekosongan inspirasi, semoga puisi ini bisa sedikit menghibur seluruh pembaca Puisi Cinta AB.

Pilihan Hakiki

Saat senang…saat sedih…
Slalu kan hadir dalam hidup
Takkan bisa memilihnya
Ketika senang kita tertawa
Bahagia…
Ketika sedih kita menangis
Berduka…
Mencintaimu adalah pilihan hidupku
Sedang hidup bukanlah pilihan
Saat jauh…saat sulit
Saat tak jumpa…saat merindukan

Sedikit Pertanyaan Untuk Nurani

Aku tahu bahwa ikatan cinta sebenarnya hanyalah merupakan sebuah hubungan yang mengikat dua individu berbeda. Bahwa ikatan cinta tidak akan pernah menjadikan dua individu yang terlahir dari lingkungan berbeda, menjadi dua sosok individu yang berkarakter identik. Tidak… tidak… ikatan cinta tidak akan pernah dan tidak seyogyanya diasumsikan seharusnya, mengubah dua berbeda menjadi satu. Berkarakter mirip pun tidak.

Aku tetaplah aku. Seperti halnya kamu tetaplah kamu. Kalau pun aku mencintaimu atau kamu mencintaiku, itu hanya perasaan kita yang bertemu. Atas dasar rasa itu, lalu baik aku ataupun kamu barulah seyogyanya berusaha mengerti seperti apa aku, seperti apa kamu, di dalam diri setiap kita masing-masing. Jika saja manusia tidak terlahir satu paket dengan ‘ego’ mungkin semua akan jadi lebih mudah bagi masing-masing ‘aku’ serta masing-masing ‘kamu’ untuk terus menerus berusaha mengerti karakter satu sama lain.

Rasanya cukup mudah untuk mengamalkan sebuah kalimat yang kudengar dari sebuah film, bahwa “Cinta itu memberi dan mengerti tanpa pernah berharap untuk diberi dan dimengerti”. Nyatanya? Ego seringkali menjadi kabut bagi hati untuk melihat dan memaknai lebih jauh, hingga seringkali menjadikan perasaan cinta sebagai sesuatu yang harus diberi dan dimengerti oleh setiap manusia yang mencintai.

Benar adanya bahwa kesabaran itu berbatas, tapi adakah ego yang menjadi batasnya? Jawaban hati ketika bijak pasti mengatakan bukan itu seharusnya, tapi inilah realita yang seringkali membatasi antara ke-tahu-an dengan ke-mau-an.


Aku Penat…

Penat aku…
berdiri dalam kegelapan
yang seolah kosong
Tapi penuh ketak pastian
Penat aku…
berada dalam kesunyian
seolah-olah tenang
Namun penuh umpatan

Page 5 of 7« First...34567