Tulisan apapun itu bentuknya, tidak dapat dengan mudah dilepaskan dari kondisi kejiwaan penulisnya. Hal ini dapat dengan mudah dipahami ketika menyimak puisi-puisi penyair tertentu dalam satu rangkaian waktu.
Demikian juga dengan Kenzt. Sekeras apapun upaya untuk mencari inspirasi sebagai bahan penulisan puisi, kondisi kejiwaan saat penulisan akhirnya juga turut menyumbangkan andil. Entah apakah ada rekan-rekan penulis lain yang merasa bisa melepaskan diri dari ketergantungan kondisi kejiwaan tersebut, namun hal ini sama sekali tidak bisa saya lepaskan. Terutama saat-saat penulisan puisi.
Contohnya adalah ketika saya sedang bingung dan memaksakan untuk menulis. Alhasil, puisi saya tersebut jadinya menimbulkan sedikit kebingungan di dalamnya. Ada yang ngga’ nyambung. Yah, seperti itulah kira-kira.
Kesepian hati…
Adakah benar adalah lorong waktu kebahagiaan ?
Kesunyian hati…
Adakah sungguh adalah suara merdu saat usia senja ?
Aku takut, aku salah kira
Meski kusadari kini ku di tengah itu semua
Aku hanya dapat bertanya
Tanpa sedikitpun kepastian akan jawabnya
Semalam mentari menghilang
dan siang ini bulan ikut serta
Sungguh…
Cukup lama kunanti ia terbit
Hingga kusadari langit t’lah gelap
Sungguh…
Cukup lama kutunggu pijar bintang
Hingga kusadari salah jam
Kemarin…
Lautan masih kekeringan, sebab
Daratan masih saja kebanjiran
Kemarin…
Apa yang tampak masih saja tak terlihat
dan yang tersembunyi menyeruak dengan mudahnya
Bingung aku…
Tadi pagi…
Kau ucap satu kata perpisahan
dan aku membiarkannya
Bukan ku tak cinta (lagi)
Tadi pagi…
Ku dengar dari kesunyian
Tak seutas hadir penjelasan
Rupanya engkau emosi
Tadi pagi…
Satu kali saja semenjak ada
Kubiarkan maumu bertahta
hingga kau berbisik itu ilusi
Sungguh membingungkanku