Arsip tulisan November, 2008

Pengaruh Kondisi Kejiwaan

Tulisan apapun itu bentuknya, tidak dapat dengan mudah dilepaskan dari kondisi kejiwaan penulisnya. Hal ini dapat dengan mudah dipahami ketika menyimak puisi-puisi penyair tertentu dalam satu rangkaian waktu.

Demikian juga dengan Kenzt. Sekeras apapun upaya untuk mencari inspirasi sebagai bahan penulisan puisi, kondisi kejiwaan saat penulisan akhirnya juga turut menyumbangkan andil. Entah apakah ada rekan-rekan penulis lain yang merasa bisa melepaskan diri dari ketergantungan kondisi kejiwaan tersebut, namun hal ini sama sekali tidak bisa saya lepaskan. Terutama saat-saat penulisan puisi.

Contohnya adalah ketika saya sedang bingung dan memaksakan untuk menulis. Alhasil, puisi saya tersebut jadinya menimbulkan sedikit kebingungan di dalamnya. Ada yang ngga’ nyambung. Yah, seperti itulah kira-kira.


Lorong waktu

Kesepian hati…
Adakah benar adalah lorong waktu kebahagiaan ?
Kesunyian hati…
Adakah sungguh adalah suara merdu saat usia senja ?

Aku takut, aku salah kira
Meski kusadari kini ku di tengah itu semua
Aku hanya dapat bertanya
Tanpa sedikitpun kepastian akan jawabnya


Bingung

Semalam mentari menghilang
dan siang ini bulan ikut serta

Sungguh…
Cukup lama kunanti ia terbit
Hingga kusadari langit t’lah gelap

Sungguh…
Cukup lama kutunggu pijar bintang
Hingga kusadari salah jam

Kemarin…
Lautan masih kekeringan, sebab
Daratan masih saja kebanjiran

Kemarin…
Apa yang tampak masih saja tak terlihat
dan yang tersembunyi menyeruak dengan mudahnya

Bingung aku…


Tadi Pagi

Tadi pagi…
Kau ucap satu kata perpisahan
dan aku membiarkannya
Bukan ku tak cinta (lagi)

Tadi pagi…
Ku dengar dari kesunyian
Tak seutas hadir penjelasan
Rupanya engkau emosi

Tadi pagi…
Satu kali saja semenjak ada
Kubiarkan maumu bertahta
hingga kau berbisik itu ilusi

Sungguh membingungkanku


Page 1 of 512345