Menjelang 6 Juli 2008

I’m sorry all, if this post feels mellow. So sorry for this but I just want to share what I’m feel today. For My 220407, please don’t take this post into your heart (don’t read this post if you not sure you’re ready). I learn very-very hard to love you as big as my previous love story but trust me, it can’t be so easy. But you know that I will reach that condition right? Please don’t jealous with my past love story. I trust you can, girl.

To all of you, just let me express all what I feel inside of my heart.I’m not perfect person, not a strong man built-in with playboy heart. Read my characteristic here before you make assumption of me.

He..he..he… nulisnya balik Indo lagi dah (maklum yah kalo englishnya kaco, katrok sih emang).

Ya, 6 Juli 2008. Satu undangan elektronik dateng masuk ke inbox email pribadiku. Satu email yang tidak pernah kuduga akan secepat itu datangnya. Ada perasaan bahagia tapi juga tersirat sedikit luka. Jujur, ternyata sesempurna aku ingin menjadi, aku tak pernah bisa mencapai bentuk ideal itu. Yah, meski sejujurnya aku sudah tidak mampu lagi merindukannya sebesar saat dulu, tak pernah sanggup aku melupakannya secepat itu. Meski aku sudah tak lagi yakin, apakah ini sebentuk cinta yang agung, tulus dan suci.

Kembali sedikit ke kilasan waktu lalu, mengungkap satu tentang DiA

Dia yang namanya tak pernah lagi kusebut
Namun tak pernah sedetikpun ku lupa
Dia yang wajahnya tak lagi pernah kutemui
Namun selalu saja nampak di pelupuk mata
Dia yang tak pernah lagi kudengar berbisik rindu
Namun selalu saja membuatku ingin bertemu

Adalah DiA…

Ya, Puisi berjudul DiA adalah kependekan dari Dik Ajeng. Kiranya nama ini kini sudah akan saya biarkan terus terungkap. Tak perlu lagi menutupinya, toh semuanya tlah pasti berlalu.

Berikutnya, kubaca lagi tulisan terakhirku tentangnya. Ode Untuk Ade (Ade merupakan penggalan dari Ade’, panggilanku untuknya dulu).

Usah Menungguku

Kau katakan… kau menunggu
waktuku tiba lebih dulu
Meski aku tak mau, tetap kau ingin begitu

Kau nyatakan seolah tak habis rasaku
Meski kuyakin kau tahu
Bahwa hati kecilku mengharapkanmu

Jika memang t’lah tiba waktumu
Menikahlah lebih dulu…!
Usah menungguku
Sebab aku mungkin kan memilih tuk sendiri dulu

Kirimkan saja undangan itu !
Sebab mungkin aku takkan mengirim sesuatu
Mungkin itu dapat hentikan penantian panjangku

Walau takkan pernah menghapuskan rasa yang tulus

Ya, akhirnya undangan itu terkirim juga. Sesuai prediksiku bahwa dia akan menikah. Sejelas aku ternyata masih mengenalnya meski sudah sekian lama tak jumpa. Akhirnya juga, Puisi 1108 Hari terjawab.

1108 hari
Sendiri
Menanti
Tak pasti

1108 hari
Renungi
Cinta sejati
Tak henti

1108 hari
Sendiri…
Sendiri…
masih sendiri

Meski ada satu yang takkan pernah terjawab meski Undangan itu sudah terkirim. SepertinyaPuisi Cinta Di Atas Kereta mampu ceritakan itu.

Di atas kereta, kutuliskan untukmu sebait puisi tentang lara
Tentang rasa yang tak pernah kumengerti akhirnya
Tentang cinta yang lahirkan makna di setiap kisah
Tentang dirimu yang terus mengendap dalam jiwa

Meski akhirnya kujuga memutuskan untuk mengubah sikapku dari yg tergambar di tulisan Menjaga Hati ini:

Meski terus hati ini berharap
Aku mengerti engkau takkan kembali

Meski terus hati ini menunggu
Kau sayangi tetap bukanlah aku

Meski terus mengalun lagu rindu
Bukan  lagi aku yg menghiasi mimpimu

Meski kutau smua hanya demi silaturahmi
Kan kujaga hati terus seperti begini

dan akhirnya memilih belajar mencintai seseorang yang sudah sekian tahun ini menyayangiku tulus meski tau aku masih menyayangi Ade’.  Bagaimanapun aku akan selalu belajar untuk berhenti menyayanginya. Maafkan aku untuk cinta yang tak sempurna dan penuh kelemahan ini, tapi percayalah, aku tidak pernah sekalipun belajar untuk menyia-nyiakan cinta. Termasuk denganmu kini yang setia menyayangiku.

Kubaca juga hingga Puisi Selalu Cinta ini

Tak pernah aku meminta
Cinta di hatimu untukku
Tak jua pernah terucap
Kasih di dirimu, untukku

Hanya kunyatakan cinta
Saat kau balas mencintaiku
Hanya kuberikan sayang
Lalu juga engkau menyayangiku

Semua tetap penuh rela
Hingga saat kau melupakanku
Juga tetap kan ada cinta
Meski semua tentangmu tak lagi aku

Tak pernah memaksa
Atau membenci saat jauh
Cinta kan tetap indah
Meski tak lagi ada aku kamu

Lalu kulanjutkan dengan Buaian, Harapan & Kenyataan.

Di birunya langit takkan kau temukan diriku
Di sebuah danau aku hidup sendiri
Cinta dan benci yang terbagi di diriku dan kamu
Membuatmu lupakanku, membuatku sepi sendiri

Padahal kita pernah sama-sama bermimpi
Pada satu cinta kita pernah berjanji
Kita juga pernah saling menangisi
dan berbisik lirih “jangan kau pergi”

Cinta membawaku kedalam buaian
Cinta membawaku kedalam harapan
Hingga lalu cinta menjauh dariku
Dalam kenyataan

Akhirnya, 1001 Puisi harus sedikit kutambahkan lagi…

1001 puisi telah kutuliskan disini
seolah tanpa arti…
seolah ku hanya ingin bicara pada diri sendiri
untuk nanti, s’bagai saksi hari ini

1001 puisi tertulis mendalam di hati
bangkitkan imaji…
kuatkan jiwa rapuh cinta sejati
separuh nafas inginku semua kembali

1001 puisi tentang sepinya hati
penantian dari sendiri…
lalui ratusan hari-hari, jiwa sepi
demi menanti… namun tak pernah pasti

tambahan:
1001 puisi kini mulai menepi
Belajar keras menatap esok pagi bermentari
Meski ia t’lah nyata pergi
dan tak tinggalkan seutas harapan bersatu kembali

Dan kayaknya Puisi Takkan Bisa Berhenti (Mencintaimu) ini harus bertambah satu baris.

Aku takkan pernah bisa berhenti mencintaimu
Meski jalan hidup kini harus kulalui tanpamu
Aku takkan berpura-pura melupakanmu
Saat semua harapan hidup… hanya tentangmu
Kutahu…slamanya mungkin ada sendiri
Andai hingga kelak kau tak pernah kembali
Bersyukurku sadari, cinta bukan untung-rugi
Dan semua kenangan yang silam pasti berarti
Tak ada pedih saat kutahu kau tak lagi sendiri
Rasa cintaku hanya tulus untuk memberi
Kumengerti, kupahami…
Cinta yang sejati tak meminta balik dicintai
Dan sendiri, bukanlah sebuah tragedi

Sepanjang kau bahagia, semua rasa sepi ini kan penuh arti

Ternyata terjawab sudah Puisi 1000 Hari ini…

1000 hari menjelang nyaris melahirkan 1000 hari pengharapan. Aku masih banyak terdiam, aku masih larut dalam kenangan.Seolah tak percaya bahwa kau pergi, aku berdiam diri menanti. 1000 hari memang bukan waktu yang lama, namun 1000 hari juga bukan jawabnya.

Atau mungkin 1000 hari lagi ?

Terjawab sudah. Tidak akan pernah ada 1000 hari panjang tanpa ketakpastian. Harapan telah tak pantas lagi diharapkan menjadi kenyataan. Hanya seutas doa bahwa DiA kan bahagia.

Masih ?

Kucium rindu untukmu hari ini
Kupeluk erat janji takkan terganti

Sebab aku memang cinta
Dari hati lewat untaian kata

Dan tiba-tiba aku teringat saat setahun lalu bertemu denganmu. Ya, setahun yang lalu. Di akhir Juni 2007. Meski hanya 1 jam waktu, tak terasa betapa hilang semua dahaga rindu. Puisi Cinta ini bercerita tentang 1 jam pertemuan dengan DiA di Akhir Juni 2007.

Meski sejenak bertemu, aku bahagia bisa kembali melihatmu
Di batas-batas kerinduan dan kehampaan tak terasa airmata menetes di pipiku

Hati yang mati suri, tiba-tiba terjaga dan berkata bahwa sesungguhnya rasa masih ada
Baru kumengerti bahwa rasa tak pernah pergi dan sepertinya takkan terganti

Sekeras apapun kumencoba, selemah apapun daya tuk mengingatnya
Hati miliki pilihannya sendiri yang tak bisa diatur oleh akal

Kukira aku sudah berhenti berharap di sekian waktu yang lalu
Kukira aku tak punya lagi hasrat untuk bertemu
Kukira… aku takkan lagi melihatmu seindah seperti dulu
Hingga kemarin aku tahu bahwa segalanya tak ada yang berubah
Hanya setumpuk perkiraanku saja yang salah

Ternyata juga, aku tak pernah mampu menggapai Sejuta Puisi yang kuinginkan hanya untuk menunjukkan padamu betapa aku sayang.

Walau sejuta puisi takkan pernah mampu menggambarkan untukmu
Seperti apa aku menyayangimu, mencintaimu, membutuhkanmu
Sejuta puisi tetap kan kutulis untukmu
Walau itu menghabiskan sepanjang waktu
Walau sejuta puisi takkan pernah bisa gantikan keberadaanku setiap kerinduanmu
Semoga sejuta puisi selalu sadarkanmu bahwa aku tak pernah jauh
Kan selalu ada kamu di hatiku, sejuta puisiku hanya kan bercerita itu
Meski tak bisa memelukmu, kau kan ingat betapa erat aku memelukmu

Sepi, sebagaimana yang sudah pernah kutulis di Antologi.Net.

Sepi
Kini sang penerang
telah menghilang
Menyisakan bayang
serta pertanyaan
Kini sang kekasih
telah menepi
Meninggalkan hati
rasakan sendiri

Mungkin, di akhir semua cerita ini hanya satu kata Terima Kasih yang pantas kuucap untuk semua pengalaman indah.

Terima kasih…
Untuk semua pengalaman indah
yang t’lah hadirkan kisah
Meski kini, usai segalanya sudah
S’mua memori tetap kan indah

Terima kasih…
Untuk sesaat pertautan hati
Meski sempat terselip janji suci
Tak pernah kumenganggapmu ingkar janji
Walau hanya denganmu kuingin berbagi

Terima kasih…
AnggrekBiru t’lah kau kunjungi
Meski tak berubah, setidaknya kau mengerti
Bahwa hatiku tak pernah terbagi
Hanya untukmu seorang diri

Lanjut di posting berikutnya.


6 komentar untuk “Menjelang 6 Juli 2008”

  1. she_zae says:

    hmmm….sedih bgt.. ya ampun bner2 terharu dech..
    salut buat Mas Kenzt yang ampe sebesar itu mencintai & menghargai yang namanya cinta..

    biarkan rasa itu ada di hati, walau dia takkan lg menghiasi cerita hidup ini, kadang rasa sedih muncul saat khayalku bersamanya tapi aku juga bahagia melihatnya tertawa walau tawa itu bukan untukku & bukan bersamaku..

  2. shanty says:

    aduh mas Kenzt makin mellow aja siih,,,,bikin aku tambah dag dig dug ngebacanya plus suasana hati aku yang gi gak menentu juga……yang aku tau bahwa cinta adalah ketika kita menitikkan air mata, tapi masih peduli terhadapnya,,, cinta adalah ketika dia tidak mempedulikan kita kita masih menunggunya dengan setia,,,,cinta adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kita masih bisa tersenyum sambil berkata “aku turut berbahagia untukmu”……
    orang yang terkuat bukanlah orang yang selalu menang dalam segala hal tapi mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh dan suatu saat kamu akan menyadari bahwa tak perlu ada penyesalan dalam hidupmu,,,,hanyalah penghargaan abadi atas pilihan kehidupan yang telah engkau buat yang memang harus ada dalam hidupmu…… sok menggurui ya mas,,,,cowry bukan maksudnya sperti itu,,, hanya menyadur seseorang yang aku pikir emang bener adanya…………

  3. Kuyus says:

    aduh .. bener bener menghayati banget ya ..
    aku gak bakal bisa menulis sampai sedetail itu menggambarkan isi hati. Gak tahu, mungkin belum brani terlalu lepas .. he he

    Bagus banged .. mm ..

  4. Astrada says:

    Wedew.. ini ko pada larut dalam perasaan semua nih..! Dah pada klepek-klepek semua lom? btw kalo puisinya saya jadikan lagu boleh ga maz kenzt?

  5. Kenzt says:

    @Astrada:
    Boleh aja… kalo udah jadi lagu, Kenzt dikirim juga yah….

Beri komentar