Adakah aku telah salah? Adakah aku kembali bermain-main dengan harapan? Adakah aku terlalu berharap bahwa semua yang terucap akan terwujud tanpa reversi realita ?
Entahlah. Ketika emosi bukan mutlak milikku seorang diri, kegamangan untuk mengungkapkan kejujuran perasaan selalu menyertai. Adakah sebaiknya aku diam, dan membiarkan perasaan ini tergerogoti rayap-rayap kekecewaan ?
Rasanya juga tak seharusnya seperti itu, sebab aku mencintaimu bukan untuk menyakiti perasaanku sendiri. Adakah aku dulu yang membentukmu menjadi seperti ini, ataukah memang kau telah berevolusi menjadi seseorang yang tampak sama diluar namun jauh berbeda di dalam? Oh… aku tak tahu, dan tak sedikitpun perkiraanku dapat memberikan jawaban yang menenggelamkan ‘aku’ dalam ketenangan.






Bagus bgt puisinya…
@EmbunPagi:
Waduhh…. makasih buat pujiannya….
bagus….rasanya pas ma perasaan gw
@Awanbiru:
Sounds good…..
terkdang apa yang terjadi tidak selalu seperti apa yang kita harapkan.
namun percayalah….
satu penantian,pengorbanan,tetes2 airmata,isak tangis,jerit kesakitan dan luka yang tergores.akan slalu dapat balasan yang akan jauh lebih bermakna!!!
karna kita akan menghargai kaki saaat kita terjatuh dan tak bisa berjalan.
dan kita akan menghargai dan menjaga hati kita dan orang lain,ketika kita telah merasakan betapa sakitnya disakiti..
So mas Ken…jangan berhenti berharap,karna dengan berharap tandanya kita msih punya semngat wat hidup!!!
@Rika:
Pesennya udah saya catet dalam hati. Saya sepakat dengan pendapat yang udah kamu tuangkan di atas. Salam kenal…
assalamu’alaikum
rika ma pinter abis
pas bgt kata2na
klo kita tak mau sakit maka jangan menyakiti yang laen
kadang jiwa memeng terasa aneh
butuh pengasingan diri
wassalamu’alaikum
KENANGAN ADALAH PENGALAMAN MASA LALU, KARENA WAKTU TRUZ BERJALAN, TATAP KEDEPAN JALAN MASIH PANJANG. . . OK CHOYY