Berguru Pada Pengalaman

Bunda bercerita tentang cinta dan kehidupan. Seorang anak duduk terdiam, mendengarkan dan menerawang. Waktu lalu tak pernah kembali datang menunggu di masa depan. Hingga akhirnya pengalaman menjadi satu sosok guru yang begitu berarti.

Sejenak terkagum, sejenak mengerti, dan sejenak mencoba memahami. Saat akhirnya hanya satu kesimpulan yang bisa didapati, “Ternyata cinta tak pernah memiliki harga mati”.

2 komentar untuk “Berguru Pada Pengalaman”

  1. Dwi Rahmawati says:

    lumayan sie…tapi menurut aku puisi itu terlalu singkat,dan kata-katanya juga kurang menyentuh,lebih diperbaiki lagi ya…and maaf bukannya aku sok pintar dan maaf juga kalau kata-kataku menyinggung penulis.salam kenal dariku…..

  2. Masykur rauf says:

    IKHLAS MELEPASKAN DIRIMU KASIH

    wahai bunga di depan rumah ku
    apakah ku petik dirimu, sedangkan kamu sudah di hisap sarimu,
    ingin ku siram lagi, tapi, aku tak berkuasa, berusahallah dirimu untuk melupakan aku. sedang dirimu sudah ada yang nyiram pagi dan sore

    memang kasih sayang berbeda antara aku sama dia
    sungguh aku takberdaya untuk kembali padamu,
    aku pergi jauh tak akan kembali dalam pelukkan kamu
    ku ucap terimakasih pada kamu telah setia pada ku cintamu

Beri komentar

 

Supported By


Tulisan Populer

Tulisan Terbaru