Bukan Puisi

Barusan ku coba menulis sebuah puisi. Sebaris, dua baris, ku hapus lagi. Ku coba dan terus mencoba. Puisiku mati…hingga waktu berputar melewati tempat yang sama, pun tak jua bisa kutitipkan makna lewat untaian kata-kata.

Haruskah kusampaikan semuanya lewat senja yang menyongsong malam? agar gelap mengatakan padamu betapa merindunya aku disini seorang diri ???

Maafkanku sayang… tak dapat kali ini kupindahkan rembulan ke taman hatimu. Mungkin esok… saat semua makna dapat bersahabat mesra dengan kata-kata.

8 komentar untuk “Bukan Puisi”

  1. siti says:

    setiap kali membaca tulisanmu selalu ada rasa yang tergugah. Entah kenapa…

  2. rien says:

    maaf untuk rasaku yang tak terbendung…aku rindu
    maaf untuk waktu yang tersita…..aku ingin bersamamu
    maaf untuk hati yang gundah…..aku ingin pergi mencarimu
    kau dimana sayang…

  3. Ade_chubby says:

    Duh..
    Meleleh niy bacanya..

  4. Chea says:

    Wow..
    PuiSinx kyenz aBz..:-)
    T.O.P.B.G.T dhE..

  5. vie says:

    “bukan puisi”

    habis kata tak dapat makna
    tak terangkai menjadi indah
    tak mudah. . .
    hanya seorang hawa ingin ungkapkan rasa
    tuangkan hati dalam sastra
    tak mudah . . .
    jauh dari arti pujangga ! !

    — vie—-
    april’ 2002

  6. ajik says:

    weleh kometatornya ce smua…:)

Beri komentar

 

Supported By


Tulisan Populer

Tulisan Terbaru