Barusan ku coba menulis sebuah puisi. Sebaris, dua baris, ku hapus lagi. Ku coba dan terus mencoba. Puisiku mati…hingga waktu berputar melewati tempat yang sama, pun tak jua bisa kutitipkan makna lewat untaian kata-kata.
Haruskah kusampaikan semuanya lewat senja yang menyongsong malam? agar gelap mengatakan padamu betapa merindunya aku disini seorang diri ???
Maafkanku sayang… tak dapat kali ini kupindahkan rembulan ke taman hatimu. Mungkin esok… saat semua makna dapat bersahabat mesra dengan kata-kata.

setiap kali membaca tulisanmu selalu ada rasa yang tergugah. Entah kenapa…
kira-kira kenapa yah Siti…?
maaf untuk rasaku yang tak terbendung…aku rindu
maaf untuk waktu yang tersita…..aku ingin bersamamu
maaf untuk hati yang gundah…..aku ingin pergi mencarimu
kau dimana sayang…
[...] Bukan Puisi [...]
Duh..
Meleleh niy bacanya..
Wow..
PuiSinx kyenz aBz..:-)
T.O.P.B.G.T dhE..
“bukan puisi”
habis kata tak dapat makna
tak terangkai menjadi indah
tak mudah. . .
hanya seorang hawa ingin ungkapkan rasa
tuangkan hati dalam sastra
tak mudah . . .
jauh dari arti pujangga ! !
— vie—-
april’ 2002
weleh kometatornya ce smua…:)