Bahagia Milik Siapa?

Aku tak tahu, siapakah sebenarnya di dunia ini yang paling menginginkan kebahagiaan untuk dirasa. Seseorang itu sendiri ataukah orang lain ??? Sebagaimana tentang siapakah yang paling mengerti diri kita masing-masing, orang lain atau memang hanya diri kita sendiri ???

Aku mengerti, normalnya kehidupan takkan menjadikan orangtua sebagai penguasa masa depan seorang anak, tanpa sedikitpun berpikir yang terbaik untuknya. Orangtua selalu menginginkan kebahagiaan untuk anaknya, bukan sebaliknya. Lalu, pernahkah ada di dunia ini seseorang normal yang tidak menginginkan kebahagiaan untuk dirinya sendiri ???

Itu hanyalah seutas perasaan klise yang masih saja berkecamuk dalam benak yang terus beranjak dewasa. Tersirat sebuah dilema panjang saat akhirnya kupilih untuk mengungkapkannya. Semoga… kelak cinta benar-benar dapat dirasakan sebagai suatu perasaan bahagia tanpa dilema.

Hanya Bisa

Jika memang kedua hati yang dipersatukan oleh rasa bernama cinta ini tak dapat menyatu dalam satu biduk kehidupan cinta yang utuh, biarkanlah rasa yang ada ini abadi tak bertepi.

Tak peduli apa yang mereka katakan, tak peduli mereka pada rasa yang kami satukan. Biarkan saja kami merasakan kebahagian dalam keterbatasan, atau ijinkan kami menyatu dalam satu ikatan. Kau takkan pernah merasa sedih atas apa yang kami rasa. Kau takkan pernah turut larut dalam keadaan hati yang carut-marut. Kau hanya bisa berkata. Kami… hanya bisa berusaha.

Pujangga

Ku tak akan pernah menjadi seorang pujangga, bermodalkan sebuah puisi cinta. Mengertilah, bahwa ku bukan seorang penyair puitis yang habiskan waktu dengan menuliskan segala inspirasi tentang cinta di selembar kertas seadanya, tak peduli lusuh atau baru.

Aku hanyalah seorang pria yang memiliki sebuah perasaan cinta pada seorang wanita. Inspirasi hadir dari sana. Aku bukanlah seorang pujangga sebab aku tak pernah menginginkan karya-karya. Hanya dirimu kini dan selamanya.

Aku

Hari ini aku pergi. Bukan tak lagi menyayangi atau mencintai. Perpisahan ini memanglah berat, terlebih saat alasan sesungguhnya takkan mampu kuucap. Percayalah cinta ku masih merasakan semua seperti sediakala. Relakanlah aku pergi demi satu cinta suci.

Kelak, jika memang Tuhan menakdirkan kita kembali, setiap langkah dan pedih hari ini akan tetap menyatukan kita nanti. Usah bersedih, ku juga merasa perih, mari kita tunjukkan pada dunia tentang satu cinta putih.

Berguru Pada Pengalaman

Bunda bercerita tentang cinta dan kehidupan. Seorang anak duduk terdiam, mendengarkan dan menerawang. Waktu lalu tak pernah kembali datang menunggu di masa depan. Hingga akhirnya pengalaman menjadi satu sosok guru yang begitu berarti.

Sejenak terkagum, sejenak mengerti, dan sejenak mencoba memahami. Saat akhirnya hanya satu kesimpulan yang bisa didapati, “Ternyata cinta tak pernah memiliki harga mati”.

Kenangan Buruk

Entah, tiba-tiba saja Kenzt ingin menulis Puisi. Kali ini bukan puisi cinta, dan tak sedikitpun penuh dengan kata cinta.  Simak aja sendiri dan telusuri maknanya. Setelah itu berikan pendapatmu, syukur-syukur sesuai dengan apa yang Kenzt maksudkan…

Sebelumnya, makasih untuk segala apresiasi yang akan diberikan.

Read more

1 Menit Lebih Lama

Selalu saja kutakut untuk membuat sebuah keputusan untuk mengakhiri penantian panjang. Padahal 1000 hari lebih telah berlalu.

Tetap sama. Alasan yang sama dengan ketika dulu aku mulai meragukan kekuatan penantian ini. Ku takut… kuhanya butuh waktu 1 menit lebih lama, ketika aku memutuskan berhenti dari penantian lalu 1 menit sesudahnya engkau datang.

Sungguh tak ingin ku menyesal. Hingga diam, tak memilih dari kebimbangan telah menjadi sebuah keputusan yang berarti penantian panjang. Namun tetap saja, ku takut ini semua hanya butuh waktu 1 menit lebih lama.

Hingga akhirnya kau datang.

Next Page »