Tulisan dalam kategori Prosa

Aku

Hari ini aku pergi. Bukan tak lagi menyayangi atau mencintai. Perpisahan ini memanglah berat, terlebih saat alasan sesungguhnya takkan mampu kuucap. Percayalah cinta ku masih merasakan semua seperti sediakala. Relakanlah aku pergi demi satu cinta suci.

Kelak, jika memang Tuhan menakdirkan kita kembali, setiap langkah dan pedih hari ini akan tetap menyatukan kita nanti. Usah bersedih, ku juga merasa perih, mari kita tunjukkan pada dunia tentang satu cinta putih.


Pujangga

Ku tak akan pernah menjadi seorang pujangga, bermodalkan sebuah puisi cinta. Mengertilah, bahwa ku bukan seorang penyair puitis yang habiskan waktu dengan menuliskan segala inspirasi tentang cinta di selembar kertas seadanya, tak peduli lusuh atau baru.

Aku hanyalah seorang pria yang memiliki sebuah perasaan cinta pada seorang wanita. Inspirasi hadir dari sana. Aku bukanlah seorang pujangga sebab aku tak pernah menginginkan karya-karya. Hanya dirimu kini dan selamanya.


Hanya Bisa

Jika memang kedua hati yang dipersatukan oleh rasa bernama cinta ini tak dapat menyatu dalam satu biduk kehidupan cinta yang utuh, biarkanlah rasa yang ada ini abadi tak bertepi.

Tak peduli apa yang mereka katakan, tak peduli mereka pada rasa yang kami satukan. Biarkan saja kami merasakan kebahagian dalam keterbatasan, atau ijinkan kami menyatu dalam satu ikatan. Kau takkan pernah merasa sedih atas apa yang kami rasa. Kau takkan pernah turut larut dalam keadaan hati yang carut-marut. Kau hanya bisa berkata. Kami… hanya bisa berusaha.


Bahagia Milik Siapa?

Aku tak tahu, siapakah sebenarnya di dunia ini yang paling menginginkan kebahagiaan untuk dirasa. Seseorang itu sendiri ataukah orang lain ??? Sebagaimana tentang siapakah yang paling mengerti diri kita masing-masing, orang lain atau memang hanya diri kita sendiri ???

Aku mengerti, normalnya kehidupan takkan menjadikan orangtua sebagai penguasa masa depan seorang anak, tanpa sedikitpun berpikir yang terbaik untuknya. Orangtua selalu menginginkan kebahagiaan untuk anaknya, bukan sebaliknya. Lalu, pernahkah ada di dunia ini seseorang normal yang tidak menginginkan kebahagiaan untuk dirinya sendiri ???

Itu hanyalah seutas perasaan klise yang masih saja berkecamuk dalam benak yang terus beranjak dewasa. Tersirat sebuah dilema panjang saat akhirnya kupilih untuk mengungkapkannya. Semoga… kelak cinta benar-benar dapat dirasakan sebagai suatu perasaan bahagia tanpa dilema.


Rutinitas Duka

Aku memanggil namamu tepat disaat suaraku tercekat, mengingat bahwa disekelilingku tak ada siapapun  slain bayang semu dirimu di anganku.

Bukan kali pertama ini aku tersadar untuk seketika membatalkan inginku memanggilmu. Sepertinya ini juga bukan kali terakhir sebab keyakinanku masih mendominasi pada sisi lemah seseorang yang tertinggal pergi.

Hingga lalu kukembali pada kehidupan sediakala. Bersikap seolah tak ada apa-apa.


Page 5 of 512345