Balada Anak Jalanan 3

Ibu……
Malam ini dingin sekali….
Menunggu Ibu tepati janji…
Aku rindu Ibu temani…
Meski untuk terakhir kali…
Ibu…..
Aku sudah sekarat…
Nafas ini semakin berat…
Merangkak saja aku tak kuat…
Apa lagi memburu zakat…
Ibu…..
Aku sangat lapar…
Malam kemarin ibu tak sabar…
Nasi untukku ibu lempar…
Wajah kurusku Ibu tampar…
Ibu….
Jika Ibu tak ingini…
Tak usah lagi Ibu kesini…
Bila esok pagi aku pergi…
Jangan jasad ini Ibu tangisi…
18 Juni 2008, YW

Seorang Anak kecil berumur 4 tahun yang menderita lumpuh akibat kecelakaan tabrak lari, telah ditelantarkan oleh ibunya sendiri, karena dianggap sudah tak berguna lagi untuk mencari uang.
18 Juni 2008, YW

Balada Anak Jalanan 2

Ibu…mataku kabur…
Sudah tiga hari aku tak tidur…
Perutku hanya berisi bubur…
Sakit sekali rasa di dubur…

Ibu…aku sudah tak kuat..
Tak ada uang untuk berobat…
Apakah semua orang jahat…
Hanya ibulah yang malaikat..

Ibu…aku ingin pergi…
Menyusul ibu dibalik pelangi…
Dimana tak ada lagi sedih…
Dalam pelukan ibu abadi…

Anak jalanan sering kali menjadi objek pelecehan sexual; Dalam penderitaan, mereka mencari sosok ibu yang mungkin sudah meninggalkan mereka sendirian.
15 Juni 2008, YW

Balada Anak Jalanan 1

Puisi satu ini di posting dalam bentuk komentar di Puisi Bunda, oleh Mas Yovan Wisnu beberapa hari lalu. Setelah dipikir-pikir, selain memasukkan puisi tentang hubungan antara Ibu dan Anak dalam kehidupan Anak Jalanan ke dalam kategori Puisi Yovan Wisnu, saya akhirnya buatkan saja kategori Puisi Bunda.

Puisi berikut ini merupakan seri pertama dari 3 seri.

Thanx untuk Mas Yovan Wisnu atas karyanya. Read more

Untuk Bunda

Maaf Ibu,
Kadang kuluput memikirkanmu
Karena seringnya memikirkan diriku
Kadang aku tidak membantumu
Karena sering bergelut dengan kesibukkanku
Kadang aku pergi meninggalkan rumah dan ibu
Karena seringnya pergi dengan teman-temanku
Kadang aku jarang bicara denganmu
Karena seringnya berhadapan dengan Laptop dan Televisi dikamarku

Tapi kini, kusangat sadar Ibu
Di hati dan Otakku hanya Ibu
Betapa ku butuh bantuan Ibu
Betapa aku selalu ingin menemani Ibu kemanapun itu
Betapa aku pun ingin selalu curhat dengan Ibu mengenai masalahku
Betapa aku butuh perhatian dan sayang Ibu di saat sakitku
Betapa aku pun butuh pundak Ibu, di saat tangisku

Ibu…
Ibu sungguh Inspirasiku
Ibu sungguh cinta dan sayangku
Ibu sungguh tautanku
Ibu benar segala2nya untukku

Maafkan aku Ibu
Aku manusia yang tak sempurna, yang selalu punya dosa dan membuatmu terbeban olehku
Hingga kadang Ibu menangis dan Jarang tersenyum karna ulahku
Tapi….
Aku yakin akan satu Hal
Do’a Ibu, bisa merubah dan menjadikan aku sebagai orang yang berhasil dan berguna untuk ibu atau siapa pun itu
Dan yang terpenting
Aku selalu sayang Ibu
SELALU…..

Puisi ini sesuai dengan kategorinya, ditulis oleh seseorang bernama Asta. Anda bisa memanggilnya dengan sebutan Mbak, Adik, ato Kakak serta Tante. Silahkan sesuaikan dengan menggunakan rumus: Umur Asta - Umur Anda = Sebutan. He…he… just intermezzo… ;)