Memilih Untuk Kebaikan
June 10, 2008
Aku selalu saja ingin orang yang mencintaiku pergi manakala ia memang sudah tak lagi mencintaiku. Aku ingin ia selalu dapat mengatakan sejujurnya ketika rasa itu hilang. Tanpa mengungkapkan kelemahan, tanpa menyumpah serapah segala kekurangan.
Meski harus merasa pedih, lebih baik jika Ia yang tak lagi menyayangiku itu pergi. Aku tidak akan pernah ‘membelinya’ dengan cinta sejati yang kupunya. Apalagi dengan harta yang masih kukejar sepanjang jaman.
Meski sakit untuk sementara, kuingin selalu ia berbahagia. Dengan atau tanpaku. Walau tak selalu seketika lebih baik setelah pergi dariku, kuyakin kelak Ia pasti akan belajar sesuatu, dan mulai bisa mengerti apa yang harusnya Ia cari.
Dan ketika itu terwujud, aku sudah cukup berbahagia melihatnya berproses menjadi Orang yang lebih baik. Bahwa seseorang yang kucintai telah berubah menjadi lebih baik. Dengan atau tanpaku.


















Kedua Kali
Patah hati
Menagis
Berduka
Marah
Dan
Kini aku sendiri
Tapi mungkin lebih baik dari pada harus terus meratapi
Patah hatiku karna keputusanmu
Menagis karna ucapanmu
Berduka karna tak lagi disisimu
Dan marah karna ternyata kau telah mempermainkan perasaanku
Tapi aku tak lupa berterima kasih
Karna ternyata aku masih bisa menyayangi dirimu setelah dia, semuanya tidaklah mudah seperti aku membalikkan telapak tanganku, semuanya butuh proses, pendewasaan, pengertian n saling punya kepercayaan.
Walau kini, aku tetap merasakan hancur untuk kedua kali.
Apa aku harus terus-terusan bersedih ?Tapi aku rasa tidak! karna aku telah berbekal pengalaman dan kesiapan yang begitu banyak dari perpisahanku dulu, jadi bila aku memang harus menemui jalan seperti ini lagi, aku siap! Dirimu dan dirinya memanglah beda, dan tentu sangat beda, nyatanya aku enggak pernah anggap kamu itu dia, atau sebaliknya. Masing-masing dari kalian, memberikan arti dan kenangan tertentu. TAPI YA SUDAHLAH, BEDANYA KALIAN BERDUA, TETAP MEMBERIKAN SATU LUKA YANG SAMA.
Siapa yang harus kepersalahkan dari ini semua? Aku enggak nyalahin kamu, aku juga enggak akan pernah mempersalahkan Tuhan, mungkin malah aku yang salah, mungkin aku egois,dan selalu mengatasnamakan emosi dalam pembicaraan kita. Thanks ya, walau kini kita pisah, aku mungkin harus banyak bersyukur padaNya dan juga tetap berterima kasih pada kamu kok, karena dengan kejadian ini semua, sungguh membuatku semakin dewasa. Harapku, kamu akan mendapatkan yang jauh lebih baik dari aku.
Mengenai aku, aku udah gpp kok, setelah udah kutumpahkan semuanya dengan tangisanku, aku udah cukup lega, walau aku udah sampai marah-marah sama kamu tanpa makianku, aku minta maaf ya, yang bicara itu adalah keemosianku, sehingga aku terus saja berkata dan berkata, tanpa memberimu celah untuk menjelaskannya semua. Maaf, aku udah mengambil hakmu untuk berbicara. Aku hanya kesal, dan aku merasa penjelasanmu tetap tidak merubah semua keputusanmu, yang mungkin tanpa kamu sadar, kamu telah buat aku luka, kini untuk keduakali.
NB:kenzt, boleh jugakan dimasukkin di tulisan “Asta he..he..he..
@Asta:
Sabar Bu Asta yah… menunggu ada lagi yang komentar disini baru aku pindahin. Kalo ga gitu ntar aku dicurigai sama Google dkk, soalnya konten disini jadi kembar-kembar….
Harap dimaklumi…..
ehm…kehilangan itu sakit ya,,,
aku juga lagi ngalamin. bahkan hilang sebelum memulai. jadi kaya kutukan gini rasanya….
iya pak Kenzt… ga buru2 kok, sorry dah ngerepotin yach