Dini hari duduk terdiam sendiri
Tatapan kosong… diantara temaram
dan dinginnya malam
Entah apa yang dipikirkannya…
Mungkin sesuap nasi untuk pagi nanti
Hanya diam tanpa kepulan
atau sumpah serapah
Tatapan kosong, mungkin
berharap satu berkah, tuk
Bangkitkan senyum merekah
Agar tak bingung sore makan apa
Posting pindahan dari blog Kenzt yang lainnya. Sorry banget kalo nyimpang dari tema utama blog puisi cinta ini. Sesekali disisipin puisi sosial boleh lah….
![]()






diam membisu
Sedih.. masih banyak pak paimin lainnya di luaran sana.
Tapi masalahnya adalah berkah tak datang dengan diam tanpa kepulan.
Jadi pengen sedikit cerita, hampir setiap hari saya melihat seorang kakek berumur sekitar 80 tahun masih menarik gerobak besar yang entah berisi apa, tanpa alas kaki, muka pucat pasi, tangan gemetar karena beratnya gerobak tak sebanding dengan energi yang dia punya. Tapi yang membuat hati ini jadi haru biru adalah kakek tersebut enggan menerima selembar dua lembar rupiah dari siapa saja yang merasa iba terhadapnya. Jadi intinya, seorang kakekpun tak berdiam tanpa kepulan. Lalu yang jadi pertanyaan saya selama ini adalah ‘kemana anaknya?’
Maaf jadi panjang comment nya..
@vesti, yah… Kenzt sepakat dengan pendapat kamu… Puisi diatas bercerita tentang seorang tua yang berprofesi sebagai pengayuh becak. Saat itu larut malam, sudah sepi penumpang dan akhirnya dia diam sebelum tidur. Dia tidak merokok, entah sudah berhenti atau memang tidak. Tatapannya kosong, sebagaimana Kenzt gambarkan di baris-baris puisi diatas.
BTW, makasih juga udah sharing potret kehidupan lainnya yang sejenis. komen panjang gpp kok, kan nyambung sama tulisannya ???
pertanyaan kamu ini sama dengan pertanyaan lain ketika Kenzt melihat seorang anak kecil berjualan atau mengemis di jalanan
brati pak paimin bingung 2 kali dunk, mikirin sarapan pagi jg makan sore hehehe
tatapan yg kosong tapi mengandung arti..
berderet pertokoan berderet kemewahan ..
bukan itu yg ada di hati nya ,.
berharap hari ini ada setetes rejeki ..
hinga esok fajar kembali..