Tak Ingin Lagi

Tak ingin lagi ku menulis puisi
Sebab puisi tak lagi mampu ku hayati
tak lagi mampu kuselami, di balik
setiap peristiwa yang harus kurenungi

Tak ingin lagi kubuatkan dirimu puisi
Sebab kau tak lagi peduli, tak lagi mengarti
Hanya membangkitkan tanya tentang sebuah memori
Untuk semua masa yang t’lah terlewati

7 komentar untuk “Tak Ingin Lagi”

  1. xvader says:

    ow…
    jangan berenti nulis puisi…
    semangat!!!

    eh tukeran link yok…
    gw pasang duluan ya…
    blog gw di http://xvader.blogspot.com/
    ditunggu link backnya…

  2. cholif says:

    menurut saya puisi akan selalu eksis selama ada yang namanya sebuah kehidupan. oleh karena itu puisi jangan dipahami sebuah simbolisme yang setagnan.benar yang dikatakan derida “semua yang ada dalam teks adalah sebuah simbolisme yang tak akan mati”

  3. Kenzt says:

    @XVader:
    Nggak kok…saya nggak akan berhenti menulis, tak terkecuali puisi. Niy saya juga mau masang link back ke tempat kamu…

    @Cholif:
    BTW, Derida itu siapa yah ??? :) he..he.. cuman rada mikir ajah, apa hubungannya Derrida sama puisi yah ???
    Terimakasih atas kutipannya, setidaknya itu membuat semangat untuk terus menulis tetap terjaga.

  4. guysss says:

    Eit
    jgn berenti dunks
    mnurut kuw puisi kga pernah berakhir,sampai suatu hari nanti

  5. muha says:

    menurutku puisi mu sebuah mahakarya luapan kata yang yang penuh arti karna sesungguhnya puisi yang kamu tuliskan ini telah cukup untuk puisi dan bukan akhir dari puisi itu sendiri…

    jikalau kata adalah persembahan jiwa yang diakhiri dengan jiwa itulah sesungguhnya kata..aku senang membacanya..menjadikan ku tempat dimana kata tiada pusara yang slalu hidup karna yang gamblang adalah sesuatu yang kasat mata sehingga seseorang mencetuskannya dengan kata-kata.
    kamu sangat luar biasa…(aku hanya memuji saja)
    thanks
    muha

  6. Kenzt says:

    @Muha:
    Terima kasih… Salam kenal dari saya…

  7. pak arif says:

    kata hatimu dan kata fikirmu ibarat pensil yang telah tumpul, dan kamu telah kehilangan rautan pensil. oleh karena itu, cobalah untuk selalu berzikir mengingat Allah agar Allah mengembalikan ingatanmu bahwa kamu punya otak dan hati untuk menjadi rautan pinsilmu. dan engkau kembali lagi bisa berpuisi, atau engkau menghendaki menjadi pelepah pisang yang hanya bisa bernafas, hambar fikirmu dan hambar rasamu.

Beri komentar

 

Supported By


Tulisan Populer

Tulisan Terbaru